Kamis, 07 April 2011

PROBLEMATIKA HUKUM MUSIK


Oleh: Fathurrahmân al-Katitanji, S.H.I*

Bismillahirrahmânirrahîm. Persoalan musik cukup pelik dikalangan ulama, tidak sedikit ulama yang mengharamkan musik namun tidak sedikit pula ulama yang membolehkan musik dengan tujuan media dakwah islamiyah. Judul di atas saya ambil dari pertanyaan salah satu sahabat penulis –semoga Allah merahmatinya- yang menanyakan prihal hukum bermain musik, mengajarkan musik atau memberikan les/ privat, hukum alat musik, menyanyikannya dan hal-hal yang berkaitan dengan musik.    
Pertanyaan,
Akhi afwan ana[1] ingin bertanya, bagaimana pendapat akhi tentang musik ditinjau dari kajian Islam? Yang ana[2] tanyakan khusunya piano dan biola.? Afwan ana bertanya karena ini berkaitan dengan permintaan sahabat ana ketika masih tinggal di USA, dia dan keluarganya tinggal di sini, dan dia meminta ana untuk mengajari/ les privat keluarganya (ibu, kakak, dan adiknya) bermain piano dan biola, kebetulan ana sejak usia 3 tahun sudah belajar. Dan sempat mengiringi sebuah konser bersama sahabat ana itu, tapi sahabat ana tidak sampai tingkat mahir school musicnya lantas meminta ana. Mohon uraian penjelasannya akhi, shukran sebelumnya. Afwan bila pertanyaan ana tidak penting, tapi penting menurut ana cz –karena- ana ingin mengetahui banyak pendapat. Jazakumullah khayr.[3]
Ana tidak tahu apakah keputusan ana ini salah or[4] tidak, yang berkaitan dengan pertanyaan ana pada Mas. Ana memutuskan mengajar piano, pada awalnya niat ana hanya ingin mengajar beberapa kali pertemuan saja untuk persiapan pagelaran orkestra adik sahabat ana, namun setelah bertemu dengan keluarganya khususnya ibunya, ada yang mengubah niat ana, hal ini di sebabkan pada awalnya ibunya kaget dan kurang suka melihat perubahan ana berbeda dengan dulu, tapi sudah 2 kali pertemuan beliau selalu mengajak diskusi terutama tentang perubahan ana, ana tertantang untuk menjelaskan ke beliau tentang Islam sebatas kemampuan ana saja, dengan harapan ada hidayah Allah masuk dalam hatinya seperti hal nya ana dulu ketika kuliah. Karena beliau bukanlah katolik yang taat berbeda dengan keluarga ana. Ana membutuhkkan saran dan tanggapan dari Mas berkenaan dengan keputusan ana ini. Apakah benar or tidak, ataukah ana terlalu sombong bila ada keinginan sedikit berdakwah kepada mereka, karena mengingat ilmu ana terlampau sedikit.? Shukron jazilan[5] sebelum dan sesudahnya.

Khayratun Hisân
Fi Ardhillâh[6]

Jawaban,
Neng Khayra yang semoga Allah selalu melindungimu, meluaskan rizqimu sehingga dimudahkan dalam bersedekah, diberikan kesehatan sehingga dimudahkan dalam berbuat kebaikan dan berdakwah. Teruslah berjuang dan berjihad di jalan Allah sesuai dengan kemampuanmu, Allah bersama-sama orang-orang yang haq. Tiada kalimat yang haq melainkan menyampaikan kalimat yang benar yaitu Asyhadu alla Ilâha Illallâhu wa Asyahadu anna Muhammad al-Rasulullâh.[7]
Mohon maaf jika jawaban nanti ada yang kurang berkenan dan kurang puas, karena keterbatasan ilmu yang saya miliki, saya hanya menguraikan kembali apa yang telah pendahulu saya tulis. Jawaban yang akan saya uraikan, saya dapatkan dari beberapa kitab-kitab yang pernah saya baca dan lebih tempatnya saya ambil dari pendapat guru-guru-ku. Mereka adalah Nashiruddin Al-Albani, Ibnu Hazm, Abdurrahman al-Baghdadi, Abdurrahman al-Jaziri, Muhammad asy-Syuwaiki, Toha Yahya Omar, Muhammad Husain Abdullah, Muhammad al-Marzuq Bin Abdul Mu’min al-Fallaty, Taqiyuddin an-Nabhani, M. Quraish Shihab, Sayyid Ramly -SP, dan M. Shiddiq al-Jawi –yang telah menjelaskan panjang lebar yang bersumber dari saudara Farid Ma’ruf-. (Semoga rahmat Allah selalu bersama meraka).

Definisi Seni
Dalam suatu kesempatan guruku pernah menjelaskan –Quraish Shihab-,[8] ”Seni adalah  keindahan. Ia merupakan ekspresi ruh dan budaya manusia yang mengandung dan mengungkapkan keindahan. Ia lahir dari sisi terdalam manusia didorong oleh kecenderungan seniman kepada yang indah, apa pun jenis keindahan itu. Dorongan tersebut merupakan naluri manusia atau fitrah yang dianugrahkan Allah kepada hamba-hamba-Nya. Di sisi lain al-Qur’an memperkenalkan agama yang lurus sebagai agama yang sesuai dengan fitrah manusia. Sebagaimana firman Allâh,
óOÏ%r'sù y7ygô_ur ÈûïÏe$#Ï9 $ZÿÏZym 4 |NtôÜÏù «!$# ÓÉL©9$# tsÜsù }¨$¨Z9$# $pköŽn=tæ 4 Ÿw Ÿ@ƒÏö7s? È,ù=yÜÏ9 «!$# 4 šÏ9ºsŒ ÚúïÏe$!$# ÞOÍhŠs)ø9$#  ÆÅ3»s9ur uŽsYò2r& Ĩ$¨Z9$# Ÿw tbqßJn=ôètƒ . 
Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah, (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (Q.S. al-Rûm [30]: 30)
Merupakan suatu hal yang mustahil, bila Allah menganugerahkan manusia potensi untuk menikmati dan mengekspresikan keindahan, kemudian Dia melarangnya. Bukankah Islam adalah agama fitrah? Segala yang bertentangan dengan fitrah ditolaknya, dan mendukung kesuciannya ditopangnya. Kemampuan berseni merupakan salah satu perbedaan manusia dengan makhluk lain. Jika demikian, Islam pasti mendukung kesenian selama penampilan lahir dan mendukung fitrah manusia yang suci itu, dan karena itu pula Islam bertemu dengan seni dalam jiwa manusia, sebagaimana seni ditemukan oleh jiwa manusia di dalam Islam.
Tetapi mengapa selama ini ada kesan bahwa Islam menghambat perkembangan seni dan memusuhinya? Jawabannya boleh jadi ilustrasi berikut. Diriwayatkan bahwa Umar Ibn al-Khaththab pernah berkata, ”Umat Islam meninggalkan dua pertiga dari transaksi ekonomi karena khawatir terjerumus ke dalam haram –riba-.” ucapan ini benar adanya, dan agaknya ia juga dapat menjadi benar jika kalimat ”transaksi ekonomi” diganti dengan ”kesenian”. Boleh jadi  problem yang paling menonjol dalam hubungan dengan seni budaya dan Islam, sekaligus kendala utama kemajuannya adalah kekhawatiran tersebut.
Karena bernyanyi dan bermain musik adalah bagian dari seni, maka kita akan meninjau lebih dahulu definisi seni, sebagai proses pendahuluan untuk memahami fakta (fahmul waqi’) yang menjadi objek penerapan hukum. Dalam Ensiklopedi Indonesia disebutkan bahwa seni adalah penjelmaan rasa indah yang terkandung dalam jiwa manusia, yang dilahirkan dengan perantaraan alat komunikasi ke dalam bentuk yang dapat ditangkap oleh indera pendengar (seni suara), indera pendengar (seni lukis), atau dilahirkan dengan perantaraan gerak (seni tari, drama).[9]
Adapun seni musik (instrumental art) adalah seni yang berhubungan dengan alat-alat musik dan irama yang keluar dari alat-alat musik tersebut. Seni musik membahas antara lain cara memainkan instrumen musik, cara membuat not, dan studi bermacam-macam aliran musik. Seni musik ini bentuknya dapat berdiri sendiri sebagai seni instrumentalia (tanpa vokal) dan dapat juga disatukan dengan seni vokal. Seni instrumentalia, seperti telah dijelaskan di muka, adalah seni yang diperdengarkan melalui media alat-alat musik. Sedang seni vokal, adalah seni yang diungkapkan dengan cara melagukan syair melalui perantaraan oral (suara saja) tanpa iringan instrumen musik. Seni vokal tersebut dapat digabungkan dengan alat-alat musik tunggal (gitar, biola, piano, dan lain-lain) atau dengan alat-alat musik majemuk seperti band, orkes simfoni, karawitan, dan sebagainya.[10] Inilah sekilas penjelasan fakta seni musik dan seni vokal yang menjadi topik pembahasan.

Tinjauan Hukum Islam –baca: Fiqih-        
Dalam pembahasan hukum musik dan menyanyi ini, saya melakukan pemilahan hukum berdasarkan variasi dan kompleksitas fakta yang ada dalam aktivitas bermusik dan menyanyi. Menurut saya, terlalu sederhana jika hukumnya hanya digolongkan menjadi dua, yaitu hukum memainkan musik dan hukum menyanyi. Sebab fakta yang ada, lebih beranekaragam dari dua aktivitas tersebut. Maka dari itu, paling tidak, ada 4 (empat) hukum fiqh yang berkaitan dengan aktivitas bermain musik dan menyanyi, yaitu:
1.      Hukum melantunkan nyanyian (ghina’).
2.      Hukum mendengarkan nyanyian.
3.      Hukum memainkan alat musik.
4.      Hukum mendengarkan musik.
Di samping pembahasan ini, akan disajikan juga tinjauan fiqh Islam berupa kaidah-kaidah atau patokan-patokan umum, agar aktivitas bermain musik dan bernyanyi tidak tercampur dengan kemaksiatan atau keharaman. Ada baiknya saya sampaikan, bahwa hukum menyanyi dan bermain musik bukan hukum yang disepakati oleh para fuqaha –praktisi hukum Islam-, melainkan hukum yang termasuk dalam masalah khilafiyah. Jadi para ulama mempunyai pendapat berbeda-beda dalam masalah ini.[11]
Oleh karena itu, boleh jadi pendirian saya dalam jawaban ini akan berbeda dengan pendapat sebagian fuqaha atau ulama lainnya. Pendapat-pendapat Islami seputar musik dan menyanyi yang berbeda dengan pendapat saya, tetap saya hormati.

Hukum Melantunkan Nyanyian (al-Ghina’/ al-Taghanni)
Para ulama berbeda pendapat mengenai hukum menyanyi (al-ghina’/ al-taghanni). Sebagian mengharamkan nyanyian dan sebagian lainnya menghalalkan. Masing-masing mempunyai dalilnya sendiri-sendiri. Berikut sebagian dalil masing-masing, seperti diuraikan oleh al-Ustadz Muhammad al-Marzuq Bin Abdul Mu’min al-Fallaty mengemukakan dalam kitabnya Saiful Qathi’i lin-Niza’ bab Fi Bayani Tahrimi al-Ghina’ wa Tahrim Istima’ Lahu. [12]

Dalil-Dalil Yang Mengharamkan Nyanyian:
1.      Berdasarkan firman Allah, “Dan di antara manusia ada orang yang mempergunakan perkataan yang tidak berguna (lahwa al-hadits) untuk menyesatkan manusia dari jalan Allah tanpa pengetahuan dan menjadikan jalan Allah itu ejekan. Mereka itu akan memperoleh adzab yang menghinakan.” (Q.S. Luqmân [31]: 6). Beberapa ulama menafsirkan maksud “lahwa al-hadits” ini sebagai nyanyian, musik atau lagu, di antaranya al-Hasan, al-Qurthubi, Ibnu Abbas dan Ibnu Mas’ud. Ayat-ayat lain yang dijadikan dalil pengharaman nyanyian adalah Q.S. al-Najm [53]: 59-61; dan Q.S. al-Isrâ’ [17]: 64.[13]
2.      Hadits Abu Malik al-Asy’ari r.a. bahwa Rasulullah s.a.w. bersabda, “Sesungguhnya akan ada di kalangan umatku golongan yang menghalalkan zina, sutera, arak, dan alat-alat musik (al-Ma’azif).” (H.R. Bukhari)[14]
3.      Hadits Aisyah r.a. Rasulullah s.a.w. bersabda, “Sesungguhnya Allah mengharamkan nyanyian-nyanyian (qoynah) dan menjualbelikannya, mempelajarinya atau mendengar-kannya.” Kemudian beliau membacakan ayat di atas. (HR. Ibnu Abi Dunya dan Ibnu Mardawaih).
4.      Hadits dari Ibnu Mas’ud r.a. Rasulullah s.a.w. bersabda, “Nyanyian itu bisa menimbulkan nifaq, seperti air menumbuhkan kembang.” (HR. Ibnu Abi Dunya dan al-Baihaqi, hadits mauquf).
5.      Hadits dari Abu Umamah r.a. Rasulullah s.a.w. bersabda, “Orang yang bernyanyi, maka Allah S.W.T. mengutus padanya dua syaitan yang menunggangi dua pundaknya dan memukul-mukul tumitnya pada dada si penyanyi sampai dia berhenti.” (HR. Ibnu Abid Dunya).
6.      Hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu ‘Auf r.a. bahwa Rasulullah s.a.w. bersabda, “Sesungguhnya aku dilarang dari suara yang hina dan sesat, yaitu: 1. Alunan suara nyanyian yang melalaikan dengan iringan seruling syaitan (mazamirus syaithan). 2. Ratapan seorang ketika mendapat musibah sehingga menampar wajahnya sendiri dan merobek pakaiannya dengan ratapan syetan (rannatus syaithan).”

Dalil-Dalil Yang Menghalalkan Nyanyian:
1.      Firman Allah S.W.T., “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu haramkan apa-apa yang baik yang telah Allah halalkan bagi kamu dan janganlah kamu melampaui batas, sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang melampaui batas.” (Qs. al-Mâ’idah [5]: 87).
2.      Hadits dari Nafi’ r.a. katanya, aku berjalan bersama Abdullah Bin Umar r.a. Dalam perjalanan kami mendengar suara seruling, maka dia menutup telinganya dengan telunjuknya terus berjalan sambil berkata; “Hai Nafi, masihkah kau dengar suara itu?” sampai aku menjawab tidak. Kemudian dia lepaskan jarinya dan berkata; “Demikianlah yang dilakukan Rasulullah s.a.w.” (HR. Ibnu Abid Dunya dan al-Baihaqi).
3.      Ruba’i Binti Mu’awwidz bin Afra berkata, Nabi s.a.w. mendatangi pesta perkawinanku, lalu beliau duduk di atas dipan seperti dudukmu denganku, lalu mulailah beberapa orang hamba perempuan kami memukul gendang dan mereka menyanyi dengan memuji orang yang mati syahid pada perang Badar. Tiba-tiba salah seorang di antara mereka berkata, “Di antara kita ada Nabi s.a.w. yang mengetahui apa yang akan terjadi kemudian.” Maka Nabi s.a.w. bersabda, “Tinggalkan omongan itu. Teruskanlah apa yang kamu (nyanyikan) tadi.” (HR. Bukhari)[15]
4.      Dari Aisyah r.a. dia pernah menikahkan seorang wanita kepada pemuda Anshar. Tiba-tiba Rasulullah s.a.w. bersabda, “Mengapa tidak kalian adakan permainan karena orang Anshar itu suka pada permainan.” (HR. Bukhari).
5.      Dari Abu Hurairah r.a., sesungguhnya Umar melewati shahabat Hasan sedangkan ia sedang melantunkan syi’ir di masjid. Maka Umar memicingkan mata tidak setuju. Lalu Hasan berkata, “Aku pernah bersyi’ir di masjid dan di sana ada orang yang lebih mulia daripadamu (yaitu Rasulullah s.a.w.)” (HR. Muslim)[16]
Dalam kesempatan lain, guruku menjelaskan –Quraish Shihab-. Musik adalah nada atau suara yang disusun demikian rupa sehingga  mengandung irama, lagu dan keharmonisan. Musik telah lama dikenal manusia dan digunakan untuk berbagai keperluan selain hiburan, seperti pengobatan, mengobarkan semangat, bahkan menidurkan bayi.
Kebanyakan ulama abad kedua dan ketiga hijriyah –khususnya yang berkecimpung di bidang hukum- mengharamkan musik. Imam Syafi’i, misalnya mengaskan bahwa diharamkan permainan dengan nard –alat musik yang terbuat dari kurma-, dan bahwa tertolak kesaksian seorang yang memiliki budak wanita kemudian mengumpulkan orang mendengarkan nyanyian. Ulama-ulama yang melarang musik, menamai alat-alat musik atau musiknya itu sendiri sebagai al-malâhî (alat-alat yang melalaikan dari kewajiban atau melalaikan dari sesuatu yang penting). Dalam konteks inilah musik menjadi haram atau makruh. Akan tetapi, bila musik mendorong kepada sesuatu yang baik, ketika itu dianjurkan.
Inipun sejalan dengan apa yang pernah disampaikan oleh Sayyid Ramly –pada kesempatan diskusi-, pada dasarnya hukum musik adalah hal yang mubah –boleh- tidak ada pelarangan. Dengan kata lain, bahwa sesuatu itu bila mendatangkan mashlahat maka dianjurkan untuk dilaksanakan, bila mendatangkan mudharat maka harus di hindari. Sesuatu itu dilaksanakan karena ada illat hukumnya.

Pandangan Penulis[17]
Dengan menelaah dalil-dalil tersebut di atas (dan dalil-dalil lainnya), akan nampak adanya kontradiksi (ta’arudh) satu dalil dengan dalil lainnya. Karena itu kita perlu melihat kaidah-kaidah ushul fiqih yang sudah masyhur di kalangan ulama untuk menyikapi secara bijaksana berbagai dalil yang nampak bertentangan itu.
Imam asy-Syafi’i mengatakan bahwa tidak dibenarkan dari Nabi s.a.w. ada dua hadits shahih yang saling bertentangan, di mana salah satunya menafikan apa yang ditetapkan yang lainnya, kecuali dua hadits ini dapat dipahami salah satunya berupa hukum khusus sedang lainnya hukum umum, atau salah satunya global (ijmal) sedang lainnya adalah penjelasan (tafsir). Pertentangan hanya terjadi jika terjadi nasakh (penghapusan hukum), meskipun mujtahid belum menjumpai nasakh itu.[18]
Oleh karena itu, jika ada dua kelompok dalil hadits yang nampak bertentangan, maka sikap yang lebih tepat adalah melakukan kompromi (jama’) di antara keduanya, bukan menolak salah satunya. Jadi kedua dalil yang nampak bertentangan itu semuanya diamalkan dan diberi pengertian yang memungkinkan sesuai proporsinya. Itu lebih baik daripada melakukan tarjih, yakni menguatkan salah satunya dengan menolak yang lainnya. Dalam hal ini Syaikh Dr. Muhammad Husain Abdullah menetapkan kaidah ushul fiqih, “Al-‘amal bi ad-dalilaini —walaw min wajhin— awlâ min ihmali ahadihimaMengamalkan dua dalil —walau pun hanya dari satu segi pengertian— lebih utama daripada meninggalkan salah satunya.[19]
Prinsip yang demikian itu dikarenakan pada dasarnya suatu dalil itu adalah untuk diamalkan, bukan untuk ditanggalkan (tak diamalkan). Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani menyatakan,  Al-ashlu fi ad-dalil al-i’mal lâ al-ihmal “. Pada dasarnya dalil itu adalah untuk diamalkan, bukan untuk ditanggalkan.[20]
Atas dasar itu, kedua dalil yang seolah bertentangan di atas dapat dipahami sebagai berikut,  bahwa dalil yang mengharamkan menunjukkan hukum umum nyanyian. Sedang dalil yang membolehkan, menunjukkan hukum khusus, atau perkecualian (takhsis), yaitu bolehnya nyanyian pada tempat, kondisi, atau peristiwa tertentu yang dibolehkan syara’, seperti pada hari raya. Atau dapat pula dipahami bahwa dalil yang mengharamkan menunjukkan keharaman nyanyian secara mutlak. Sedang dalil yang menghalalkan, menunjukkan bolehnya nyanyian secara muqayyad (ada batasan atau kriterianya).[21]
Dari sini kita dapat memahami bahwa nyanyian ada yang diharamkan, dan ada yang dihalalkan. Nyanyian haram didasarkan pada dalil-dalil yang mengharamkan nyanyian, yaitu nyanyian yang disertai dengan kemaksiatan atau kemunkaran, baik berupa perkataan (qaul), perbuatan (fi’il), atau sarana (asy-yâ’), misalnya disertai khamr, zina, penampakan aurat, ikhtilath (campur baur pria–wanita), atau syairnya yang bertentangan dengan syara’, misalnya mengajak pacaran, mendukung pergaulan bebas, mempropagandakan sekularisme, liberalisme, nasionalisme, dan sebagainya. Nyanyian halal didasarkan pada dalil-dalil yang menghalalkan, yaitu nyanyian yang kriterianya adalah bersih dari unsur kemaksiatan atau kemunkaran. Misalnya nyanyian yang syairnya memuji sifat-sifat Allah SWT, mendorong orang meneladani Rasul, mengajak taubat dari judi, mengajak menuntut ilmu, menceritakan keindahan alam semesta, dan semisalnya.[22]

Hukum Mendengarkan Nyanyian
1.      Hukum Mendengarkan Nyanyian (Sama’ al-Ghina’)
Hukum menyanyi tidak dapat disamakan dengan hukum mendengarkan nyanyian. Sebab memang ada perbedaan antara melantunkan lagu (at-taghanni bi al-ghina’) dengan mendengar lagu (sama’ al-ghina’). Hukum melantunkan lagu termasuk dalam hukum af-‘âl (perbuatan) yang hukum asalnya wajib terikat dengan hukum syara’ (at-taqayyud bi al-hukm asy-syar’i). Sedangkan mendengarkan lagu, termasuk dalam hukum af-‘âl jibiliyah, yang hukum asalnya mubah. Af-‘âl jibiliyyah adalah perbuatan-perbuatan alamiah manusia, yang muncul dari penciptaan manusia, seperti berjalan, duduk, tidur, menggerakkan kaki, menggerakkan tangan, makan, minum, melihat, membaui, mendengar, dan sebagainya. Perbuatan-perbuatan yang tergolong kepada af-‘âl jibiliyyah ini hukum asalnya adalah mubah, kecuali adfa dalil yang mengharamkan. Kaidah syariah menetapkan, Al-ashlu fi al-af’âl al-jibiliyah al-ibahahHukum asal perbuatan-perbuatan jibiliyyah, adalah mubah.[23]
Maka dari itu, melihat —sebagai perbuatan jibiliyyah— hukum asalnya adalah boleh (ibahah). Jadi, melihat apa saja adalah boleh, apakah melihat gunung, pohon, batu, kerikil, mobil, dan seterusnya. Masing-masing ini tidak memerlukan dalil khusus untuk membolehkannya, sebab melihat itu sendiri adalah boleh menurut syara’. Hanya saja jika ada dalil khusus yang mengaramkan melihat sesuatu, misalnya melihat aurat wanita, maka pada saat itu melihat hukumnya haram.
Demikian pula mendengar. Perbuatan mendengar termasuk perbuatan jibiliyyah, sehingga hukum asalnya adalah boleh. Mendengar suara apa saja boleh, apakah suara gemericik air, suara halilintar, suara binatang, juga suara manusia termasuk di dalamnya nyanyian. Hanya saja di sini ada sedikit catatan. Jika suara yang terdengar berisi suatu aktivitas maksiat, maka meskipun mendengarnya mubah, ada kewajiban amar ma’ruf nahi munkar, dan tidak boleh mendiamkannya. Misalnya kita mendengar seseorang mengatakan, “Saya akan membunuh si Fulan!” Membunuh memang haram. Tapi perbuatan kita mendengar perkataan orang tadi, sebenarnya adalah mubah, tidak haram. Hanya saja kita berkewajiban melakukan amar ma’ruf nahi munkar terhadap orang tersebut dan kita diharamkan mendiamkannya.
Demikian pula hukum mendengar nyanyian. Sekedar mendengarkan nyanyian adalah mubah, bagaimanapun juga nyanyian itu. Sebab mendengar adalah perbuatan jibiliyyah yang hukum asalnya mubah. Tetapi jika isi atau syair nyanyian itu mengandung kemungkaran, kita tidak dibolehkan berdiam diri dan wajib melakukan amar ma’ruf nahi munkar. Nabi Saw bersabda, “Siapa saja di antara kalian melihat kemungkaran, ubahlah kemungkaran itu dengan tangannya (kekuatan fisik). Jika tidak mampu, ubahlah dengan lisannya (ucapannya). Jika tidak mampu, ubahlah dengan hatinya (dengan tidak meridhai). Dan itu adalah selemah-lemah iman.” [HR. Imam Muslim, an-Nasa’i, Abu Dawud dan Ibnu Majah].
2.      Hukum Mendengar Nyanyian Secara Interaktif (Istima’ al-Ghina’)
Penjelasan sebelumnya adalah hukum mendengar nyanyian (sama’ al-ghina’). Ada hukum lain, yaitu mendengarkan nyanyian secara interaktif (istima’ li al-ghina’). Dalam bahasa Arab, ada perbedaan antara mendengar (as-sama’) dengan mendengar-interaktif (istima’). Mendengar nyanyian (sama’ al-ghina’) adalah sekedar mendengar, tanpa ada interaksi misalnya ikut hadir dalam proses menyanyinya seseorang. Sedangkan istima’ li al-ghina’, adalah lebih dari sekedar mendengar, yaitu ada tambahannya berupa interaksi dengan penyanyi, yaitu duduk bersama sang penyanyi, berada dalam satu forum, berdiam di sana, dan kemudian mendengarkan nyanyian sang penyanyi.[24] Jadi kalau mendengar nyanyian (sama’ al-ghina’) adalah perbuatan jibiliyyah, sedang mendengar-menghadiri nyanyian (istima’ al-ghina’) bukan perbuatan jibiliyyah.
Jika seseorang mendengarkan nyanyian secara interaktif, dan nyanyian serta kondisi yang melingkupinya sama sekali tidak mengandung unsur kemaksiatan atau kemungkaran, maka orang itu boleh mendengarkan nyanyian tersebut. Adapun jika seseorang mendengar nyanyian secara interaktif (istima’ al-ghina’) dan nyanyiannya adalah nyanyian haram, atau kondisi yang melingkupinya haram (misalnya ada ikhthilat) karena disertai dengan kemaksiatan atau kemunkaran, maka aktivitasnya itu adalah haram.[25] Allah SWT berfirman, “Maka janganlah kamu duduk bersama mereka hingga mereka beralih pada pembicaraan yang lainnya.” (Qs. an-Nisâ’ [4]: 140). Dan ayat yang lainnya “…Maka janganlah kamu duduk bersama kaum yang zhalim setelah (mereka) diberi peringatan.” (Qs. al-An’âm [6]: 68).

Hukum Memainkan Alat Musik
Bagaimanakah hukum memainkan alat musik, seperti gitar, piano, rebana, dan sebagainya? Jawabannya adalah, secara tekstual (nash), ada satu jenis alat musik yang dengan jelas diterangkan kebolehannya dalam hadits, yaitu ad-duff atau al-ghirbal, atau rebana. Sabda Nabi s.a.w., “Umumkanlah pernikahan dan tabuhkanlah untuknya rebana (ghirbal).” (HR. Ibnu Majah)[26]
Adapun selain alat musik ad-duff atau al-ghirbal, maka ulama berbeda pendapat. Ada yang mengharamkan dan ada pula yang menghalalkan. Dalam hal ini saya cenderung kepada pendapat Syaikh Nashiruddin al-Albani. Menurut Syaikh Nashiruddin al-Albani hadits-hadits yang mengharamkan alat-alat musik seperti seruling, gendang, dan sejenisnya, seluruhnya dha’if. Memang ada beberapa ahli hadits yang memandang shahih, seperti Ibnu Shalah dalam Muqaddimah ‘Ulumul Hadits, Imam an-Nawawi dalam Al-Irsyad, Imam Ibnu Katsir dalam Ikhtishar ‘Ulumul Hadits, Imam Ibnu Hajar dalam Taghliqul Ta’liq, as-Sakhawy dalam Fathul Mugits, ash-Shan’ani dalam Tanqihul Afkar dan Taudlihul Afkar juga Syaikh al-Islam Ibnu Taimiyah dan Imam Ibnul Qayyim dan masih banyak lagi. Akan tetapi Syaikh Nashiruddin al-Albani dalam kitabnya Dha’if al-Adab al-Mufrad setuju dengan pendapat Ibnu Hazm dalam Al-Muhalla bahwa hadits yang mengharamkan alat-alat musik adalah Munqathi’.[27]
Imam Ibnu Hazm mengatakan,[28]Jika belum ada perincian dari Allah S.W.T. maupun Rasul-Nya tentang sesuatu yang kita perbincangkan di sini [dalam hal ini adalah nyanyian dan memainkan alat-alat musik], maka telah terbukti bahwa ia halal atau boleh secara mutlak.[29]
Kesimpulannya, memainkan alat musik apa pun, adalah mubah. Inilah hukum dasarnya. Kecuali jika ada dalil tertentu yang mengharamkan, maka pada saat itu suatu alat musik tertentu adalah haram. Jika tidak ada dalil yang mengharamkan, kembali kepada hukum asalnya, yaitu mubah.

Hukum Mendengarkan Musik
1.   Mendengarkan Musik Secara Langsung (Live)
Pada dasarnya mendengarkan musik (atau dapat juga digabung dengan vokal) secara langsung, seperti show di panggung pertunjukkan, di GOR, lapangan, dan semisalnya, hukumnya sama dengan mendengarkan nyanyian secara interaktif. Patokannya adalah tergantung ada tidaknya unsur kemaksiatan atau kemungkaran dalam pelaksanaannya. Jika terdapat unsur kemaksiatan atau kemungkaran, misalnya syairnya tidak Islami, atau terjadi ikhthilat, atau terjadi penampakan aurat, maka hukumnya haram. Jika tidak terdapat unsur kemaksiatan atau kemungkaran, maka hukumnya adalah mubah.[30]
2.   Mendengarkan Musik di Radio, TV, dan Semisalnya. Menurut Abdurrahman al-Baghdadi  dan Syaikh Muhammad al-Syuwaiki,[31] bahwa hukum mendengarkan musik melalui media TV, radio, dan semisalnya, tidak sama dengan hukum mendengarkan musik secara langsung sepereti show di panggung pertunjukkan. Hukum asalnya adalah mubah (ibahah), bagaimana pun juga bentuk musik atau nyanyian yang ada dalam media tersebut. Kemubahannya didasarkan pada hukum asal pemanfaatan benda (asy-yâ’) —dalam hal ini TV, kaset, VCD, dan semisalnya— yaitu mubah. Kaidah syar’iyah mengenai hukum asal pemanfaatan benda menyebutkan, Al-Ashlu fi al-asy-yâ’ al-ibahah ma lam yarid dalilu at-tahrimHukum asal benda-benda, adalah boleh, selama tidak terdapat dalil yang mengharamkannya.[32] Namun demikian, meskipun asalnya adalah mubah, hukumnya dapat menjadi haram, bila diduga kuat akan mengantarkan pada perbuatan haram, atau mengakibatkan dilalaikannya kewajiban. Kaidah syar’iyah menetapkan, Al-wasilah ila al-haram haramSegala sesuatu perantaraan kepada yang haram, hukumnya haram juga.[33]

Pedoman Umum Nyanyian dan Musik Islami
Setelah menerangkan berbagai hukum di atas, saya ingin membuat suatu pedoman umum –saya ambil dari ijtihadnya al-Jawi-, tentang nyanyian dan musik yang Islami, dalam bentuk yang lebih rinci dan operasional. Pedoman ini disusun atas di prinsip dasar, bahwa nyanyian dan musik Islami wajib bersih dari segala unsur kemaksiatan atau kemungkaran, seperti diuraikan di atas. Setidaknya ada 4 (empat) komponen pokok yang harus diislamisasikan, hingga tersuguh sebuah nyanyian atau alunan musik yang indah (Islami):
1.   Musisi/Penyanyi.
2.   Instrumen (alat musik).
3.   Sya’ir dalam bait lagu.
4.   Waktu dan Tempat.

Berikut sekilas uraiannya:
1.   Musisi/Penyanyi
a.       Bertujuan menghibur dan menggairahkan perbuatan baik (khayr / ma’ruf) dan menghapus kemaksiatan, kemungkaran, dan kezhaliman. Misalnya, mengajak jihad fi sabilillah, mengajak mendirikan masyarakat Islam. Atau menentang judi, menentang pergaulan bebas, menentang pacaran, menentang kezhaliman penguasa sekuler.
b.      Tidak ada unsur tasyabuh bil-kuffar (meniru orang kafir dalam masalah yang bersangkutpaut dengan sifat khas kekufurannya) baik dalam penampilan maupun dalam berpakaian. Misalnya, mengenakan kalung salib, berpakaian ala pastor atau bhiksu, dan sejenisnya.
c.       Tidak menyalahi ketentuan syara’, seperti wanita tampil menampakkan aurat, berpakaian ketat dan transparan, bergoyang pinggul, dan sejenisnya. Atau yang laki-laki memakai pakaian dan/atau asesoris wanita, atau sebaliknya, yang wanita memakai pakaian dan/atau asesoris pria. Ini semua haram.
2.   Instrumen/Alat Musik.
Dengan memperhatikan instrumen atau alat musik yang digunakan para shahabat, maka di antara yang mendekati kesamaan bentuk dan sifat adalah,
a.       Memberi kemaslahatan bagi pemain ataupun pendengarnya. Salah satu bentuknya seperti genderang untuk membangkitkan semangat.
b.      Tidak ada unsur tasyabuh bil-kuffar dengan alat musik atau bunyi instrumen yang biasa dijadikan sarana upacara non muslim.
Dalam hal ini, instrumen yang digunakan sangat relatif tergantung maksud si pemakainya. Dan perlu diingat, hukum asal alat musik adalah mubah, kecuali ada dalil yang mengharamkannya.
3.   Sya’ir.
Berisi:
a.    Amar ma’ruf (menuntut keadilan, perdamaian, kebenaran dan sebagainya) dan nahi munkar (menghujat kedzaliman, memberantas kemaksiatan, dan sebagainya.
b.   Memuji Allah, Rasul-Nya dan ciptaan-Nya.
c.    Berisi ‘ibrah dan menggugah kesadaran manusia.
d.   Tidak menggunakan ungkapan yang dicela oleh agama.
e.    Hal-hal mubah yang tidak bertentangan dengan aqidah dan syariah Islam.
Tidak berisi:
a.    Amar munkar (mengajak pacaran, dan sebagainya) dan nahi ma’ruf (mencela jilbab,dsb).
b.   Mencela Allah, Rasul-Nya, al-Qur’an.
c.    Berisi “bius” yang menghilangkan kesadaran manusia sebagai hamba Allah.
d.   Ungkapan yang tercela menurut syara’ (porno, tak tahu malu, dan sebagainya).
e.    Segala hal yang bertentangan dengan aqidah dan syariah Islam.
4.      Waktu dan Tempat
a.    Waktu mendapatkan kebahagiaan (waqtu sururin) seperti pesta pernikahan, hari raya, kedatangan saudara, mendapatkan rizki, dan sebagainya.
b.   Tidak melalaikan atau menyita waktu beribadah (yang wajib).
c.    Tidak mengganggu orang lain (baik dari segi waktu maupun tempat).
d.   Pria dan wanita wajib ditempatkan terpisah (infishal) tidak boleh ikhtilat (campur baur).

Penutup
Demikianlah kiranya apa yang dapat saya sampaikan mengenai hukum menyanyi dan bermusik dalam pandangan Islam. Kembalikan semua permasalahan pada al-Qur’an dan al-Hadits karena keduanya sumber utama dalam istinbath hukum, jika tidak menemukan jawaban dari masalah yang kita hadapi cari fatwa ulama yang serupa, jika masih belum menemukan juga maka selayaknya kita menyakan pada yang lebih berkompenten. Tentu saja kajian fiqh musik ini terlalu sederhana jika dikatakan sempurna.
Saya sadari bahwa permasalahan yang kita kaji adalah permasalahan khilafiyah. Mungkin sebagian ada yang berbeda pandangan dalam menentukan status hukum menyanyi dan musik ini, dan perbedaan itu sangat saya hormati.
Semua ini mudah-mudahan dapat menjadi kontribusi —walau pun cuma secuil— dalam upaya melepaskan diri dari masyarakat sekuler yang bobrok, yang menjadi pendahuluan untuk membangun peradaban dan masyarakat Islam yang kita idam-idamkan bersama, yaitu masyarakat Islam di bawah naungan Lâ Ilâha illallâh Muhammadur Rasulullâh. Amin. Wa Allâhu a’lam bi ash-shawwâb.[]

Ditulis di bawah naungan Kubah Emas Ulil Albab,
Dilanjutkan kembali di Pos Pengungsian Merapi Kepuharjo,
Dilanjutkan dan diselesaikan di Padepokan Selokan Mataram
Rabu, 3 November 2010, Pukul 06:49 WIB
Direvisi di Padepokan al-Zain
Senin, 31 Januari 2011, Pukul 22:45 WIB

Salam ta’zhim[34]
Saudara Anda Fathurrahmân al-Katitanji
085743702030/ 087838214440/ 081252570933
elkatitanji@yahoo.com,
al_katitanji@yahoo.co.id


MARÂJI’ (anjuran bahan bacaan)


Abdullah, Muhammad Husain. 1995. Al-Wadhih fi Ushul Al-Fiqh. Cetakan II. (Beirut : Darul Bayariq).
Al-Amidi, Saifuddin. 1996. Al-Ihkam fi Ushul Al-Ahkam. Juz I. Cetakan I. (Beirut : Darul Fikr).
Al-Baghdadi, Abdurrahman. 1991. Seni Dalam Pandangan Islam. Cetakan I. (Jakarta : Gema Insani Press).
Al-Jazairi, Abi Bakar Jabir. 1992. Haramkah Musik dan Lagu ? (Al-I’lam bi Anna Al-‘Azif wa Al-Ghina Haram). Alih Bahasa oleh Awfal Ahdi. Cetakan I. (Jakarta : Wala` Press).
Al-Jaziri, Abdurrahman. 1999. Kitab Al-Fiqh ‘Ala Al-Madzahib Al-Arba’ah. Juz II. Qism Al-Mu’amalat. Cetakan I. (Beirut : Darul Fikr).
Asy-Syaukani. Tanpa Tahun. Irsyadul Fuhul Ila Tahqiq Al-Haq min ‘Ilm Al-Ushul.(Beirut : Darul Fikr).
Asy-Syuwaiki, Muhammad. Tanpa Tahun. Al-Khalash wa Ikhtilaf An-Nas. (Al-Quds : Mu`assasah Al-Qudsiyah Al-Islamiyyah).
Al-Thahhan, Mahmud. tt. Taysir Musthalah Al-Hadits. (Surabaya : Syirkah Bungkul Indah).

Al-Nabhani, Taqiyuddin. 1953. Asy-Syakhshiyah Al-Islamiyah. Juz III (Ushul Al-Fiqh). Cetakan II. (Al-Quds : Min Mansyurat Hizb Al-Tahrir).
 ———-. 1963. Muqaddimah Ad-Dustur.(t.t.p. : t.p.).
———-. 1994. Asy-Syakhshiyah Al-Islamiyah. Juz I. Cetakan IV. (Beirut : Darul Ummah).
———-.2001. Nizham Al-Islam. (t.t.p. : t.p.).
Omar, Toha Yahya. 1983. Hukum Seni Musik, Seni Suara, dan Seni Tari Dalam Islam. Cetakan II. (Jakarta : Penerbit Widjaya).
Wafaa, Muhammad. 2001. Metode Tarjih Atas Kontradiksi Dalil-Dalil Syara’ (Ta’arudh Al-Adillah min Al-Kitab wa As-Sunnah wa At-Tarjih Baynaha). Alih Bahasa oleh Muslich. Cetakan I. (Bangil : Al-Izzah).
M. Quraish Shihab, 2010. Tafsir Al-Mishbah,
———-. 2010. Menjawab 1001 Soal Keislaman yang Patut Anda Ketahui. Cet ke-VIII,  
Bulletin An-Nur. Hukum Musik dan Lagu. http://www.alsofwah.or.id/
Bulletin Istinbat. Mendengarkan Musik, Haram ? http://www.sidogiri.com/
Fatwa Pusat Konsultasi Syariah. Lagu dan Musik. http://www.syariahonline.com/
Kusuma, Juanda. 2001. Tentang Musik. http://www.pesantrenvirtual.com/
“Norma Islam untuk Musisi, Instrumen, Sya’ir, dan Waktu”. Musik. http://www.ashifnet.tripod.com/
Santoso, Iman. Hukum Nyanyian dan Musik. http://www.ummigroup.co.id/pokan














*Alumni Ma’had al-Jâmi’ah al-Islamiyah al-Indonisiyah, dan alumni Ma’had Darussalam, Lawang Malang, sekarang aktivis sebagai khadim Masjid Ulil Albab UII.
[1] Saudaraku mohon maaf saya (Bahasa Arab),
[2] Saya (Bahasa Arab)
[3] Semoga Allah membalas dengan kebaikan / terimakasih banyak (Bahasa Arab)
[4] Atau (Bahasa Inggris)
[5] Terimakasih banyak (Bahasa Arab)
[6] Di bumi Allah (Bahasa Arab)
[7] Saya bersaksi bahwa tidak ada tuhan yang berhaq disembah melainkan Allah dan saya bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah (Bahasa Arab)
[8] M. Quraish Shihab, Wawasan al-Qur’an, (Bandung: Mizan, 2007), hal.507
[9] Lihat Abdurrahman al-Baghdadi, Seni Dalam Pandangan Islam, hal. 13           
[10] Lihat Abdurrahman al-Baghdadi, Seni Dalam Pandangan Islam, hal. 13-14.
[11] Lihat Syaikh Abdurrahman al-Jaziri, Kitab al-Fiqh ‘Ala al-Madzahib al-Arba’ah, hal. 41-42. Lihat juga Syaikh Muhammad asy-Syuwaiki, Al-Khalash wa Ikhtilaf an-Nas, hal. 96. Lihat juga Abdurrahman al-Baghdadi, Seni Dalam Pandangan Islam, hal. 21-25. Dan lihat juga Toha Yahya Omar, Hukum Seni Musik, Seni Suara, Dan Seni Tari Dalam Islam, hal. 3.
[12] Lihat Muhammad al-Marzuq Bin Abdul Mu’min al-Fallaty mengemukakan dalam kitabnya Saiful Qathi’i lin-Niza’ bab Fi Bayani Tahrimi al-Ghina’ wa Tahrim Istima’ Lahu.  Dan lihat Abdurrahman al-Baghdadi dalam bukunya Seni dalam Pandangan Islam, hal. 27-38. dan Syaikh Muhammad asy-Syuwaiki dalam Al-Khalash wa Ikhtilaf an-Nas, hal. 97-101
[13] Abi Bakar Jabir al-Jazairi, Haramkah Musik Dan Lagu? (al-I’lam bi Anna al-‘Azif wa al-Ghina Haram), hal. 20-22).
[14] Shahih Bukhari, hadits no. 5590].
[15] dalam Fâth al-Bârî, juz. III, hal. 113, dari Aisyah r.a.
[16] Shahih Muslim Jilid II, hal. 485
[17] Penulis mengambil pendapat dari Shidiq al-Jawi
[18] Lihat Imam al-Syaukani, Irsyadul Fuhul Ila Tahqiq al-Haq min ‘Ilm al-Ushul, hal. 275
[19] Lihat Syaikh Muhammad Husain Abdullah, Al-Wadhih fi Ushul Al-Fiqh, hal. 390
[20] Lihat Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani, Asy-Syakhshiyah al-Islamiyah, juz 1, hal. 239.
[21] Lihat Abdurrahman al-Baghdadi, Seni Dalam Pandangan Islam, hal. 63-64; Syaikh Muhammad asy-Syuwaiki, Al-Khalash wa Ikhtilaf an-Nas, hal. 102-103.
[22] Lihat Abdurrahman al-Baghdadi, Seni Dalam Pandangan Islam, hal. 64-65; Syaikh Muhammad asy-Syuwaiki, Al-Khalash wa Ikhtilaf an-Nas, hal. 103.
[23] Syaikh Muhammad al-Syuwaiki, Al-Khalash wa Ikhtilaf an-Nas, hal. 96.
[24] Ibid. hal. 104.
[25] Syaikh Muhammad asy-Syuwaiki, Al-Khalash wa Ikhtilaf an-Nas, hal. 104
[26] Lihat Abi Bakar Jabir al-Jazairi, Haramkah Musik Dan Lagu? (Al-I’lam bi Anna al-‘Azif wa al-Ghina Haram), hal. 52; Toha Yahya Omar, Hukum Seni Musik, Seni Suara, Dan Seni Tari Dalam Islam, hal. 24.
[27] Lihat Syaikh Nashiruddin Al-Albani, Dha’if al-Adab al-Mufrad, hal. 14-16.
[28] Dalam kitabnya Al-Muhalla, juz VI, hal. 59
[29] Lihat Abdurrahman al-Baghdadi, Seni Dalam Pandangan Islam, hal. 57.
[30] Lihat Abdurrahman al-Baghdadi, Seni Dalam Pandangan Islam, hal. 74.
[31] Ibid., hal. 74-76 dan Syaikh Muhammad al-Syuwaiki, Al-Khalash wa Ikhtilaf an-Nas, hal. 107-108
[32] Lihat Abdurrahman al-Baghdadi, Seni Dalam Pandangan Islam, hal. 76.
[33] Lihat Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani, Muqaddimah ad-Dustur, hal. 86.
[34] Salam hormat (Bahasa Arab)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar